Merasa Sial Jika tak Sedekah, Thathayyur?
Latest News

Merasa Sial Jika tak Sedekah, Thathayyur?

  • 15 January 2023

Pertanyaan:

Bismillah 
Semoga Allah senantiasa menjaga ustadz dan keluarga.

Afwan ustadz, izin bertanya.
 
Ana punya kebiasaan mengeluarkan infaq ke masjid setiap Jumat, dan berusaha tidak terlewat di setiap Jumatnya. Suatu saat, ana sengaja untuk mengulur waktu sehingga hari Jumat berlalu dan ana lupa untuk berinfaq.
Beberapa hari kemudian ana mendapatkan musibah yang mana harus mengeluarkan biaya yang cukup besar
 
Beberapa bulan kemudian kejadian di atas terjadi lagi, ana melewatkan infaq Jumat, dan kembali terjadi musibah yang ujungnya ana harus mengeluarkan dana yang cukup besar.

Kejadian yang serupa di atas seingat ana sempat terulang beberapa kali, sehingga terkadang ana berprasangka bahwa kesialan-kesialan tersebut disebabkan karena ana tidak infaq Jumat.
 
Pertanyaannya 
Apakah yang seperti ini disebut Tathoyyur, atau bagaimana seharusnya menyikapi kejadian seperti ini, mohon pencerahannya yaa ustadz

Jazaakumullahu khoiron

Jawaban:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

1. Perlu diperhatikan bahwa benar sedekah dapat menolak bala sebagaimana disebutkan di dalam hadits dari Abdullah bin Mas’ud dan Ubadah bin Shomit - semoga Allah meridai keduanya -, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وداوُوا مرضاكم بالصدقة

“Obatilah orang-orang sakit kalian dengan bersedekah.” (Dinilai hasan oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ dan Shahih At-Targhib)

Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan hadits ini,

فإن للصدقة تأثيرًا عجيبًا في دفع أنواع البلاء ولو كانت من فاجر أو من ظالم بل من كافر فإن الله تعالى يدفع بها عنه أنواعا من البلاء وهذا أمر معلوم عند الناس خاصتهم وعامتهم وأهل الأرض كلهم مقرون به لأنهم جربوه

“Sedekah memiliki khasiat yang kuat menolak berbagai macam bala (termasuk penyakit). Bahkan, sekalipun itu dari orang yang ahli maksiat, zalim, maupun orang kafir. Melalui sedekah yang mereka lakukan, Allah angkat bala. Khasiat sedekah seperti ini disaksikan oleh banyak orang, orang-orang berilmu, atau kaum awam umumnya, bahkan seluruh penduduk bumi mengakuinya karena mereka telah merasakan sendiri.” (Jami’ Al-Fiqh, 3: 7)

Yang paling shahih adalah hadits yang tertulis di Shahih Bukhari dan Shahih Muslim tentang shalat gerhana (kusuf),

فإذا رأيتم ذلك فادعو الله وكبروا وصلوا وتصدقوا

“Jika kalian melihat gerhana, maka berdoalah, bertakbir, salat, dan bersedekahlah.“

Ibnu Daqiq Al ‘Id rahimahullah berkata,

وفي الحديث دليل على استحباب الصدقة عند المخاوف لاستدفاع البلاء المحذور

“Hadits ini dalil anjuran bersedekah ketika suasana menakutkan untuk menolak bala yang dikhawatirkan.”

2. Anggapan bahwa jika tidak bersedekah di hari Jumat akan mendapatkan kesialan adalah anggapan yang keliru. Jika sangkaannya demikian, maka hal tersebut termasuk tathayyur.

Mari kita kupas apa itu definisi dari tathayyur?

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

الطِّيَرَةُ شِركٌ ، الطِّيَرَةُ شِركٌ ، الطِّيَرَةُ شِركٌ ، وما منا إلا ، ولكنَّ اللهَ يُذهِبُه بالتَّوَكُّلِ

“Thiyarah adalah kesyirikan, thiyarah adalah kesyirikan, thiyarah adalah kesyirikan. Dan setiap kita pasti pernah mengalaminya. Namun Allah hilangkan itu dengan memberikan tawakkal (dalam hati)” (HR. Abu Daud no. 3910, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud).

Ath thiyarah disebut juga at tathayyur. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan:

التطـيُّر: هو التشاؤم من الشيء المرئي أو المسموع

“at tathayyur artinya merasa sial karena suatu pertanda yang dilihat atau didengar” (Miftah Daris Sa’adah, 3/311).

Sebagian ulama membedakan ath thiyarah dengan at tathayyur. Al Qarafi rahimahullah mengatakan:

فالتطير: هو الظن السيّئُ الكائن في القلب، والطِّـيَرة: هو الفعل المرتَّب على هذا الظن من فرار أو غيره

“at tathayyur artinya sangkaan dalam hati bahwa akan terjadi kesialan. Sedangkan at thiyarah adalah perbuatan yang dihasilkan dari tathayyur, yaitu berupa lari atau perbuatan lainnya” (al Furuq, 4/1367).

An Nawawi rahimahullah mengatakan:

والتطير: التشاؤم، وأصلُهُ الشيءُ المكروه من قول، أو فعل، أو مرئي

“at tathayyur artinya merasa sial, dan landasannya pada perkara-perkara yang buruk, baik berupa perkataan, perbuatan atau sesuatu yang dilihat” (Syarah Shahih Muslim, 4/2261).

Semua bentuk merasa sial yang muncul dalam sangkaan, baik yg dilihat atau didengar, yang tidak ada hubungan sebab-akibat secara syar’i atau qadari (ilmiah), maka itu thiyarah. 

Dan bagaimana sikap kita seharusnya?

Sikap kita adalah:
- Yakinlah bahwa tathayyur tidak memberikan mudharat sama sekali

- Gantungkanlah hati kita semua kepada-Nya, karena Allah lah yang menetapkan kebaikan atau keburukan. 

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّـهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan” (QS. An Nahl: 53).

Allah Ta’ala juga berfirman:

وَإِن يَمْسَسْكَ اللَّـهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ

“jika Allah menimpakan suatu mudharat kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Allah sendiri” (QS. Al An’am: 17).

- Mintalah keselamatan dan perlindungan kepada Allah saja dan bertawakkalah kepadaNya. Semoga Allah memberikan taufik kepada kita semua.

Wallahu a'lam

Dijawab oleh Ustadz Abu Hanin Muhammad, Lc* حفظه الله تعالى